Kachong,
seorang teman dari Madura, pada satu kesempatan mendapat undangan makan gratis.
Di kedai Zupparella di kawasan kuliner Pringwulung, dengan suara mantap, ia
memilih menu Cheesy Beef Spaghetti. Sewaktu ditanya tentang menu pilihannya, ia
suka kata spaghetti. Spaghetti itu menunjukkan “khas” Italia, katanya.
Mengenai
menu Spaghetti khas Italia, Kachong punya sejarah. Tahun 1997, untuk pertama
kali ia melihat pertandingan liga sepakbola luar negeri: antara Juventus dan
Roma. Pada pertandingan tersebut, Juventus menang. Karena menang, Juventus jadi
idola Kachong. Pemain yang masih diingatnya Del Piero dan Inzaghi. “Keduanya merupakan
duet maut,” cetusnya mengenai pemain pujaannya. Sejak itu, Kachong jadi penyuka
Italiano.
Satu
jam lebih kami menunggu menu siap-santap. Setelah pramusaji menyuguhkan
berbagai menu pesanan, Kachong pun tampak bergairah menikmati menu ‘kesukaannya’.
Di tengah asyiknya denting-garpu-sendok-piring-cawan-jamuan, Kachong tampak
tertegun. Matanya berputar. Lidahnya menjilat bibir atas-bawahnya berulang.
Bergantian. Seperti ada yang tidak beres. Peserta jamuan pun mengalihkan
perhatiannya ke Kachong. “Kok tidak Del Piero ya?”.
Melihat
rautnya yang berubah masam, tahulah kami tidak Del Piero, itu berarti tidak maknyus dengan seleranya. Teman-teman
yang lain pun segera menimpali, “Kurang sentuhan Totti-nya barangkali?”, “Yang
masak mungkin Ambrosini”, “Mancini lupa memberi garam”, dan komentar berbau pemain
bola lainnya berhamburan.
Peristiwa
Kachong di jamuan makan dengan cita-rasa bola terjadi pada Jumat malam, 6
Oktober 2012, kira-kira pukul 22:00 WIB. Secara gamblang, peristiwa itu
menggambarkan citarasa ternyata tidak sekadar berkaitan dengan daftar menu.
Tapi ia juga ditentukan dengan kebiasaan dan kultur. Kachong yang saban harinya
makan di Borju, dengan menu nasi telor dan segelas air putih, tidak serta merta
enjoy melahap spaghetti yang
dibayangkannya dapat mengubah identiasnya menjadi Italiano.
Kecuali
itu, pilihan menu Kachong atas dasar idola –dan mungkin berdasar iklan makanan-
ternyata membuka tabir kelam masyarakat mediamassa: citra itu sisi manis modus
“penipuan”. Iklan dan citarasa kuliner dapat dikatakan dua garis kurva yang
berjalan beriringan. Iklan menyuguhkan bayangan fantasi, membetot imajinasi, dan
menohok keyakinan. Pilihan citarasa melahirkan gengsi, prestise, dan kepuasan.
Dengan iklan, kita mendapatkan suguhan ‘wow’.
Pilihan citarasa berdasarkan iklan mengesankan ‘ini masalah buat lho?’.
Tak
kalah menariknya, hari ini kita adalah apa yang kita konsumsi berdasarkan
iklan. Kalau kita makan di restoran yang diiklan, kita seolah sepadan atau
setara dengan orang-orang pengunjung restoran itu. Kalau dalam iklannya
restoran itu dikunjungi artis, maka kita yang makan di restoran merasa sepadan
dengan artis. Kalau kita hidup di perumahan yang dipromosikan oleh artis, kita
akan dipersepsikan sebagai orang-orang punya cita rasa tinggi dan gaya hidup
cosmopolitan.
Lebih
hebohnya lagi, iklan tidak hanya melulu menentukan cita rasa kita dalam gaya
hidup, kuliner, dan pola konsumsi lainnya. Iklan juga menjadi label seberapa
kuat kita beragama. Promo umrah atau kunjungan wisata religi dengan segala
fasilitasnya, memberi ruang-imajinasi kita untuk mematut-matut diri sebagai
pemeluk agama yang syah. Kita rasanya kurang “afdal” shalat kalau tidak umroh
bersama ustdaz-artis. Kita pun rasanya tidak boleh “mengutuk” atau berbicara
halal-haram pada artis yang umrah dan naik hajinya diiklankan oleh media.
Dengan
kalimat yang lebih melelahkan, hampir semua urusan hidup kita serahkan pada
iklan. Kalau iklan bilang merah, pilihan politik kita pun merah. Kalau iklan
suarakan hijau, kita pun menghambur sebagai warga neraga ber-KTP hijau.
Segalanya adalah iklan. Kalau tidak ikut iklan, kita bisa-bisa dianggap makar,
tidak populis, kafir, atau tidak pro-rakyat. Atau yang sedikit ekstrim menolak
iklan berarti menolak untuk menjadi manusia seutuhnya.
Sayangnya,
realitas tak sepenuhnya ditentukan iklan. Imajinasi mungkin mampu
mengabstraksikan keinginan. Menginventaris berbagai kebutuhan. Tapi citarasa
kadang berbalik arah. Spaghetti yang ditawarkan sebagai makanan Italia, lengkap
dengan keterangan daging kelas atas, bercampur lezatnya tendangan Del Piero,
bercampur parutan keju umpan Pirlo, tak mampu mengubah selera kumuh PSSI Kachong dalam sekejap waktu. Pun sajian iklan
umrah dan haji lengkap dengan pelayanan artisnya, tidak mampu menghadirkan
kesalehan-sosial. Janji-janji anggota dewan dan presiden tidak serta menjadi
mantra ajaib. Dalam konteks ini, iklan tetaplah citra penuh tipuan.
Dalam cerita jamuan
makan di atas, beruntung Kachong masih mau jujur. Ia tidak terjebak dalam ilusi
bayangan di kepalanya. Rasio lidah dan lidah rasionya tidak berjalan seiring.
Spaghetti yang dibayangkannya enak, tidak serta menghilangkan kesadarannya
untuk mengungkapkan kelu lidahnya. Sayangnya, ruang kesadaran yang dimiliki
Kachong hari ini tidak serta merta menjadi “iklan” yang enak dinikmati. Kita
masih dianggap tabu untuk mengkritisi Presiden Jokowi yang diiklan presiden
rakyat. Kita masih ragu untuk menolak dirut BUMN dari pihak asing yang
diiklankan memiliki etos-kerja sesuai selera revolusi mental. Atau
jangan-jangan kita butuh “iklan” untuk menyampaikan hal-hal yang tak tertangani
oleh pemerintah?
ilustrasi diambil dari abraresto.com
ilustrasi diambil dari abraresto.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar