Kuliner Lidah Bola - santriwarrior

Breaking

Header Ads

SANTRIWARRIOR 728X90

Kamis, 14 Mei 2015

Kuliner Lidah Bola

Oleh Set Wahedi

Kachong, seorang teman dari Madura, pada satu kesempatan mendapat undangan makan gratis. Di kedai Zupparella di kawasan kuliner Pringwulung, dengan suara mantap, ia memilih menu Cheesy Beef Spaghetti. Sewaktu ditanya tentang menu pilihannya, ia suka kata spaghetti. Spaghetti itu menunjukkan “khas” Italia, katanya.

Mengenai menu Spaghetti khas Italia, Kachong punya sejarah. Tahun 1997, untuk pertama kali ia melihat pertandingan liga sepakbola luar negeri: antara Juventus dan Roma. Pada pertandingan tersebut, Juventus menang. Karena menang, Juventus jadi idola Kachong. Pemain yang masih diingatnya Del Piero dan Inzaghi. “Keduanya merupakan duet maut,” cetusnya mengenai pemain pujaannya. Sejak itu, Kachong jadi penyuka Italiano.  

Satu jam lebih kami menunggu menu siap-santap. Setelah pramusaji menyuguhkan berbagai menu pesanan, Kachong pun tampak bergairah menikmati menu ‘kesukaannya’. Di tengah asyiknya denting-garpu-sendok-piring-cawan-jamuan, Kachong tampak tertegun. Matanya berputar. Lidahnya menjilat bibir atas-bawahnya berulang. Bergantian. Seperti ada yang tidak beres. Peserta jamuan pun mengalihkan perhatiannya ke Kachong. “Kok tidak Del Piero ya?”.

Melihat rautnya yang berubah masam, tahulah kami tidak Del Piero, itu berarti tidak maknyus dengan seleranya. Teman-teman yang lain pun segera menimpali, “Kurang sentuhan Totti-nya barangkali?”, “Yang masak mungkin Ambrosini”, “Mancini lupa memberi garam”, dan komentar berbau pemain bola lainnya berhamburan.

Peristiwa Kachong di jamuan makan dengan cita-rasa bola terjadi pada Jumat malam, 6 Oktober 2012, kira-kira pukul 22:00 WIB. Secara gamblang, peristiwa itu menggambarkan citarasa ternyata tidak sekadar berkaitan dengan daftar menu. Tapi ia juga ditentukan dengan kebiasaan dan kultur. Kachong yang saban harinya makan di Borju, dengan menu nasi telor dan segelas air putih, tidak serta merta enjoy melahap spaghetti yang dibayangkannya dapat mengubah identiasnya menjadi Italiano.

Kecuali itu, pilihan menu Kachong atas dasar idola –dan mungkin berdasar iklan makanan- ternyata membuka tabir kelam masyarakat mediamassa: citra itu sisi manis modus “penipuan”. Iklan dan citarasa kuliner dapat dikatakan dua garis kurva yang berjalan beriringan. Iklan menyuguhkan bayangan fantasi, membetot imajinasi, dan menohok keyakinan. Pilihan citarasa melahirkan gengsi, prestise, dan kepuasan. Dengan iklan, kita mendapatkan suguhan ‘wow’. Pilihan citarasa berdasarkan iklan mengesankan ‘ini masalah buat lho?’.

Tak kalah menariknya, hari ini kita adalah apa yang kita konsumsi berdasarkan iklan. Kalau kita makan di restoran yang diiklan, kita seolah sepadan atau setara dengan orang-orang pengunjung restoran itu. Kalau dalam iklannya restoran itu dikunjungi artis, maka kita yang makan di restoran merasa sepadan dengan artis. Kalau kita hidup di perumahan yang dipromosikan oleh artis, kita akan dipersepsikan sebagai orang-orang punya cita rasa tinggi dan gaya hidup cosmopolitan.

Lebih hebohnya lagi, iklan tidak hanya melulu menentukan cita rasa kita dalam gaya hidup, kuliner, dan pola konsumsi lainnya. Iklan juga menjadi label seberapa kuat kita beragama. Promo umrah atau kunjungan wisata religi dengan segala fasilitasnya, memberi ruang-imajinasi kita untuk mematut-matut diri sebagai pemeluk agama yang syah. Kita rasanya kurang “afdal” shalat kalau tidak umroh bersama ustdaz-artis. Kita pun rasanya tidak boleh “mengutuk” atau berbicara halal-haram pada artis yang umrah dan naik hajinya diiklankan oleh media.

Dengan kalimat yang lebih melelahkan, hampir semua urusan hidup kita serahkan pada iklan. Kalau iklan bilang merah, pilihan politik kita pun merah. Kalau iklan suarakan hijau, kita pun menghambur sebagai warga neraga ber-KTP hijau. Segalanya adalah iklan. Kalau tidak ikut iklan, kita bisa-bisa dianggap makar, tidak populis, kafir, atau tidak pro-rakyat. Atau yang sedikit ekstrim menolak iklan berarti menolak untuk menjadi manusia seutuhnya.     

Sayangnya, realitas tak sepenuhnya ditentukan iklan. Imajinasi mungkin mampu mengabstraksikan keinginan. Menginventaris berbagai kebutuhan. Tapi citarasa kadang berbalik arah. Spaghetti yang ditawarkan sebagai makanan Italia, lengkap dengan keterangan daging kelas atas, bercampur lezatnya tendangan Del Piero, bercampur parutan keju umpan Pirlo, tak mampu mengubah selera kumuh PSSI  Kachong dalam sekejap waktu. Pun sajian iklan umrah dan haji lengkap dengan pelayanan artisnya, tidak mampu menghadirkan kesalehan-sosial. Janji-janji anggota dewan dan presiden tidak serta menjadi mantra ajaib. Dalam konteks ini, iklan tetaplah citra penuh tipuan.

Dalam cerita jamuan makan di atas, beruntung Kachong masih mau jujur. Ia tidak terjebak dalam ilusi bayangan di kepalanya. Rasio lidah dan lidah rasionya tidak berjalan seiring. Spaghetti yang dibayangkannya enak, tidak serta menghilangkan kesadarannya untuk mengungkapkan kelu lidahnya. Sayangnya, ruang kesadaran yang dimiliki Kachong hari ini tidak serta merta menjadi “iklan” yang enak dinikmati. Kita masih dianggap tabu untuk mengkritisi Presiden Jokowi yang diiklan presiden rakyat. Kita masih ragu untuk menolak dirut BUMN dari pihak asing yang diiklankan memiliki etos-kerja sesuai selera revolusi mental. Atau jangan-jangan kita butuh “iklan” untuk menyampaikan hal-hal yang tak tertangani oleh pemerintah?

ilustrasi diambil dari abraresto.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar