Hidayat Raharja (cerita buat Aufa II) - santriwarrior

Breaking

Header Ads

SANTRIWARRIOR 728X90

Minggu, 17 Mei 2015

Hidayat Raharja (cerita buat Aufa II)

Oleh Set Wahedi

Pak Dayat, kali pertama saya “mengenalnya” ketika ikut lomba karya tulis ilmiah remaja tahun 2000. Kali itu, Pak Dayat menyerangku dengan pertanyaan seputar bapa’, èbu, guru, rato. Waktu itu, saya sedikit gelagapan menguraikan ketundukan demi ketundukan masyarakat Madura yang terkandung dalam kata-kata itu. Kelak, ketika kami sudah akrab, cerita pertemuan kami menjadi ‘jeda’ untuk tertawa di tengah kesuntukan musimku. Semacam intermezzo atas pertemuan yang tak terduga antara Musa dan Khidir.

Untuk beberapa hal, saya mengistilahkan pertemuan kami dengan ‘ngecas’. Ya, kepada Pak Dayat saya selalu menumpahkan kegalauan dan kegagalan saya dalam menangkap isyarat alam untuk ditulis. Setelah mendengar keluh-kesah saya, Pak Dayat kemudian memberikan beberapa nasihat bagaimana seseorang yang memiliki cita-cita untuk berpegang teguh pada mimpi dan harapannya. Atas dasar itulah, saban kali aku kehilngan sense dalam belajar menulis, Aufa, aku selalu menyempatkan pulang untuk bertemu dengan Pak Dayat.
Satu cerita yang masih kuingat ‘ejekan’ Pak Dayat terhadap kemasalanku terjadi pada semester sembilan perkualiahanku. Pada semester itu, saya lebih disibukkan dengan aktif di organisasi mahasiswa. Selain itu, aku sering ‘diajak’ seorang dosen penulisan kreatif, untuk menemaninya dalam “Kemah Kreatif”. Agenda yang lebih berjibun dari biasanya ditambah rasa malas semester tua, menyebabkan saya banyak mengabaikan waktu tanpa berkarya.

Di tengah kesuntukan berbagai agenda dan hilangnya semangat berkarya itu, saya menyempatkan diri untuk bermain ke Pak Dayat. Setelah basa-basi tentang kabar dan kesibukan, lalu beliau mengajukan pertanyaan, “Sekarang menulis apa?” Saya sedikit tercekat mendapatkan pertanyaan yang tidak terduga ini. Baru kali ini Pak Dayat bertanya tentang apa yang sedang saya kerjakan, bisikku dalam hati. Dengan sedikit malu, saya menjawab dengan sedikit cerita, “Untuk saat ini saya masih memilih tenang dulu, Pak. Saya sibuk ikut kuliah penulisan kreatif.” Sebelum saya menyelesaikan cerita saya, Pak Dayat menukas, “Iya, sih. Kalau orang kaya dan sibuk itu tidak perlu menulis.”

Bluuur. Saya seperti dilempar ke tengah kolam dangkal dari jutaan depa jarak luncur. Tubuh saya seperti menghantam beton. Tubuh saya berkeping dengan air menyergap pakaian dan sobekan tubuh saya, dan bercipratan ke mana-mana. Lebih tepatnya, tubuh saya terpelanting.

Saya menghirup nafas sejenak, kemudian mengembangkan bibir. Pak Dayat paham dengan kondisi yang menimpa saya. Beliau lalu bercerita tentang pentingnya punya ingatan dan kejujuran serta sikap teguh memegang prinsip. Kelak, prinsip dan karakter kuat seorang Madura dalam diri Pak Dayat selalu “mengikat” saya untuk tidak melepas segala keinginan dan cita-cita untuk (belajar) menjadi penulis. Karenanya Aufa, dalam beberapa hal –terutama yang berkaitan dengan prinsip-prinsip kemanusiaan yang diajarkan Pak Dayat- saya cenderung keras kepala. 

Aufa, sepenggal pertemuan itulah yang selalu menjadi “adegan” dalam hidupku untuk mengingat Pak Dayat. Dengan pertemuan itu, saya jadi mulai telaten untuk bertanya, kenapa, bagaimana dan lalu sampai kapan saya seharusnya menulis. Saya mulai belajar untuk menulis karena untuk menghibur diri sendiri; menulis untuk berbagi; menulis untuk memanfaatkan waktu; menulis untuk memahami apa yang terjadi dan saya alami;  menulis sebagai upaya untuk mensyukuri nikmat Tuhan yang saya rasakan; menulis untuk berdoa. Seperti saya menulis catatan harian tentang kita.

Selanjutnya, Aufa bisa menebak sendiri. Pak Dayat selalu menjadi titik tumpu saya dalam menemukan semangat berkarya. Bahkan dalam beberapa pertemuan kami, saya selalu belajar untuk berkata “tidak” dan “iya.” Berkata “iya” dan “tidak” sebenarnya bisa pelajari dari siapa saja dan dari mana saja. Semisal, saya bisa belajar berkata “tidak” dan “iya” pada para aktivis seperti Aufa. Tapi melihat para aktivis yang sudah di gedung DPR –apalagi yang sudah terbelit kasus korupsi- saya jadi ragu benarkah mereka benar-benar berkata “tidak” terhadap kesewenang-wenangan kekuasaan, korupsi dan penindasan nilai-nilai kemanusiaan? Benarkah mereka benar-benar berkata “iya” untuk keadilah, kesejahteraan, kesetaraan dan kemanusiaan dan lainnya dan lainnya?

Pada Pak Dayat, saya juga belajar untuk menjadikan karya sastra –dalam beberapa fase hidup- sebagai ruang pemberontakan sekaligus meraih kemenangan. Mungkin saya kalah bertarung dengan kondisi ekonomi, kebijakan pemerintah, perlakuan aparat desa, atau hal-ihwal dalam percintaan. Tapi kekalahan itu cukup dalam realitas yang keras dan sedikit absurd. Sementara dalam dunia imajinasi, saya harus memenangkan itu semua. Meski kemenangan yang saya raih, tidak bisa lepas dari narasi-narasi sedih. Saya bertahan pada keyakinan sastra sebagai ruang pemberontakan sekaligus kemenangan itu pun berawal dari kata-kata Pak Dayat.

Syahdan Pak Dayat menonton sebuah pertunjukan karya siswanya. Dalam pertunjukan itu, siswanya menarasikan tentang hidup yang bergantung dan ditentukan uang. Bahkan –dengan sedikit hiperbola- siswanya menikamkan satu keyakinan pada penonton, bahwa tanpa uang kehidupan akan macet, lumpuh atau bahkan berakhir. Dalam sesi apresiasi, Pak Dayat ternyata menjelma satu dari sekian ratus penonton yang tidak sepakat. Pak Dayat mengajukan satu pertanyaan –yang saya kira kau pun akan menyetujuinya-, “Kalau dalam dunia imajinasi kita sudah kalah, lalu apa yang tersisa dari karya sastra itu?”

Sejak saat itu pula, saya meyakini, bahwa dalam berkarya seorang pengarang harus mampu memenangkan “pertempuran”. Karya sastra harus menjadi ruang, di mana orang lapar bisa menemukan arti kelaparan, orang sakit memahami rasa sakitnya, orang buta memahami kebutaannya. Selain itu, Aufa, karya sastra harus menjadi ruang ungsi bagi setiap orang dari kekejaman realitas. Ya, saat realitas menyuguhkan hal-hal atau peristiwa yang di luar nalar, semisal kekerasan, kasus hukum yang carut-marut, para aktivis yang bersuara demi “sesuatu”, serta berbagai kebijakan atas nama rakyat tapi mencekik rakyat, karya sastra harus menjadi ruang untuk membaca itu semua. Karya sastra harus menjadi ruang bagi seseorang dalam menjaga ingatannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar