Oleh Set Wahedi
Pak
Dayat, kali pertama saya “mengenalnya” ketika ikut lomba karya tulis ilmiah
remaja tahun 2000. Kali itu, Pak Dayat menyerangku dengan pertanyaan seputar
bapa’, èbu, guru, rato. Waktu itu, saya sedikit gelagapan menguraikan
ketundukan demi ketundukan masyarakat Madura yang terkandung dalam kata-kata
itu. Kelak, ketika kami sudah akrab, cerita pertemuan kami menjadi ‘jeda’ untuk
tertawa di tengah kesuntukan musimku. Semacam intermezzo atas pertemuan yang
tak terduga antara Musa dan Khidir.
Untuk
beberapa hal, saya mengistilahkan pertemuan kami dengan ‘ngecas’. Ya, kepada Pak Dayat saya selalu menumpahkan kegalauan dan
kegagalan saya dalam menangkap isyarat alam untuk ditulis. Setelah mendengar
keluh-kesah saya, Pak Dayat kemudian memberikan beberapa nasihat bagaimana
seseorang yang memiliki cita-cita untuk berpegang teguh pada mimpi dan
harapannya. Atas dasar itulah, saban kali aku kehilngan sense dalam belajar menulis, Aufa, aku selalu menyempatkan pulang
untuk bertemu dengan Pak Dayat.
Satu
cerita yang masih kuingat ‘ejekan’ Pak Dayat terhadap kemasalanku terjadi pada
semester sembilan perkualiahanku. Pada semester itu, saya lebih disibukkan
dengan aktif di organisasi mahasiswa. Selain itu, aku sering ‘diajak’ seorang dosen
penulisan kreatif, untuk menemaninya dalam “Kemah Kreatif”. Agenda yang lebih
berjibun dari biasanya ditambah rasa malas semester tua, menyebabkan saya
banyak mengabaikan waktu tanpa berkarya.
Di
tengah kesuntukan berbagai agenda dan hilangnya semangat berkarya itu, saya
menyempatkan diri untuk bermain ke Pak Dayat. Setelah basa-basi tentang kabar
dan kesibukan, lalu beliau mengajukan pertanyaan, “Sekarang menulis apa?” Saya
sedikit tercekat mendapatkan pertanyaan yang tidak terduga ini. Baru kali ini
Pak Dayat bertanya tentang apa yang sedang saya kerjakan, bisikku dalam hati.
Dengan sedikit malu, saya menjawab dengan sedikit cerita, “Untuk saat ini saya
masih memilih tenang dulu, Pak. Saya sibuk ikut kuliah penulisan kreatif.”
Sebelum saya menyelesaikan cerita saya, Pak Dayat menukas, “Iya, sih. Kalau
orang kaya dan sibuk itu tidak perlu menulis.”
Bluuur.
Saya seperti dilempar ke tengah kolam dangkal dari jutaan depa jarak luncur.
Tubuh saya seperti menghantam beton. Tubuh saya berkeping dengan air menyergap pakaian
dan sobekan tubuh saya, dan bercipratan ke mana-mana. Lebih tepatnya, tubuh
saya terpelanting.
Saya
menghirup nafas sejenak, kemudian mengembangkan bibir. Pak Dayat paham dengan
kondisi yang menimpa saya. Beliau lalu bercerita tentang pentingnya punya
ingatan dan kejujuran serta sikap teguh memegang prinsip. Kelak, prinsip dan
karakter kuat seorang Madura dalam diri Pak Dayat selalu “mengikat” saya untuk
tidak melepas segala keinginan dan cita-cita untuk (belajar) menjadi penulis.
Karenanya Aufa, dalam beberapa hal –terutama yang berkaitan dengan
prinsip-prinsip kemanusiaan yang diajarkan Pak Dayat- saya cenderung keras
kepala.
Aufa,
sepenggal pertemuan itulah yang selalu menjadi “adegan” dalam hidupku untuk
mengingat Pak Dayat. Dengan pertemuan itu, saya jadi mulai telaten untuk
bertanya, kenapa, bagaimana dan lalu sampai kapan saya seharusnya menulis. Saya
mulai belajar untuk menulis karena untuk menghibur diri sendiri; menulis untuk
berbagi; menulis untuk memanfaatkan waktu; menulis untuk memahami apa yang
terjadi dan saya alami; menulis sebagai
upaya untuk mensyukuri nikmat Tuhan yang saya rasakan; menulis untuk berdoa. Seperti
saya menulis catatan harian tentang kita.
Selanjutnya,
Aufa bisa menebak sendiri. Pak Dayat selalu menjadi titik tumpu saya dalam
menemukan semangat berkarya. Bahkan dalam beberapa pertemuan kami, saya selalu
belajar untuk berkata “tidak” dan “iya.” Berkata “iya” dan “tidak” sebenarnya
bisa pelajari dari siapa saja dan dari mana saja. Semisal, saya bisa belajar
berkata “tidak” dan “iya” pada para aktivis seperti Aufa. Tapi melihat para
aktivis yang sudah di gedung DPR –apalagi yang sudah terbelit kasus korupsi-
saya jadi ragu benarkah mereka benar-benar berkata “tidak” terhadap
kesewenang-wenangan kekuasaan, korupsi dan penindasan nilai-nilai kemanusiaan?
Benarkah mereka benar-benar berkata “iya” untuk keadilah, kesejahteraan,
kesetaraan dan kemanusiaan dan lainnya dan lainnya?
Pada
Pak Dayat, saya juga belajar untuk menjadikan karya sastra –dalam beberapa fase
hidup- sebagai ruang pemberontakan sekaligus meraih kemenangan. Mungkin saya
kalah bertarung dengan kondisi ekonomi, kebijakan pemerintah, perlakuan aparat
desa, atau hal-ihwal dalam percintaan. Tapi kekalahan itu cukup dalam realitas
yang keras dan sedikit absurd. Sementara dalam dunia imajinasi, saya harus
memenangkan itu semua. Meski kemenangan yang saya raih, tidak bisa lepas dari
narasi-narasi sedih. Saya bertahan pada keyakinan sastra sebagai ruang
pemberontakan sekaligus kemenangan itu pun berawal dari kata-kata Pak Dayat.
Syahdan
Pak Dayat menonton sebuah pertunjukan karya siswanya. Dalam pertunjukan itu, siswanya
menarasikan tentang hidup yang bergantung dan ditentukan uang. Bahkan –dengan
sedikit hiperbola- siswanya menikamkan satu keyakinan pada penonton, bahwa
tanpa uang kehidupan akan macet, lumpuh atau bahkan berakhir. Dalam sesi
apresiasi, Pak Dayat ternyata menjelma satu dari sekian ratus penonton yang
tidak sepakat. Pak Dayat mengajukan satu pertanyaan –yang saya kira kau pun
akan menyetujuinya-, “Kalau dalam dunia imajinasi kita sudah kalah, lalu apa
yang tersisa dari karya sastra itu?”
Sejak
saat itu pula, saya meyakini, bahwa dalam berkarya seorang pengarang harus
mampu memenangkan “pertempuran”. Karya sastra harus menjadi ruang, di mana
orang lapar bisa menemukan arti kelaparan, orang sakit memahami rasa sakitnya,
orang buta memahami kebutaannya. Selain itu, Aufa, karya sastra harus menjadi
ruang ungsi bagi setiap orang dari kekejaman realitas. Ya, saat realitas
menyuguhkan hal-hal atau peristiwa yang di luar nalar, semisal kekerasan, kasus
hukum yang carut-marut, para aktivis yang bersuara demi “sesuatu”, serta
berbagai kebijakan atas nama rakyat tapi mencekik rakyat, karya sastra harus
menjadi ruang untuk membaca itu semua. Karya sastra harus menjadi ruang bagi
seseorang dalam menjaga ingatannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar