Oleh Set Wahedi
Telang,
Mei 2015
Hujan
tumpah, dan kau tersenyum di atas panggung.
Seperti raut para penjaga gerbang.
Seperti gemetar para penerjemah.
Bapak
guru baru ya? Aku mengusap wajahku.
Para penonton memilih kursinya
masing-masing.
Dengan nama masing-masing.
Dan alamat pulang yang pesing.
Saya pakai kaos, Pak.
Kalau saya tidak, Pak.
Bapak mengajarkan bahasa ibu Bapak?
Wajah Bapak kok
bengkak?
Saya
meraba bahasa ibu saya.
Penuh kaleng.
Comberan membuat udara lebih berat.
“Delapan tahun saya tidak menyeduh asam sulfat
tanah ini.”
Kau tertawa.
Para penonton berderai.
Bapak guru baru ya?
Apakah ini hari selasa?
Bukan Pak.
Para penonton menyusun harinya sendiri.
Mereka
bergemuruh.
Dan
dari dalam bahasa ibu, kudengar sirine penggusuran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar