Oleh
Set Wahedi
:Aufa
kau
ukur tubuhmu
tiap
menit
seperti
tiap inci kota
tergenang
sengal sepimu
malam
tiba
dan
menjelma
kanvas
membentang
raut
samudera
dan
kau menghadapinya serupa
perupa
bangkit
dari
tahun berhantu
moyangmu
kau
menghadapinya –benar-benar
menghadapinya-
seperti perupa
sekian
dongeng dan silsilah
lalu
kau melukis
malam
dengan gegas
paling
getas
waktu
yang lihai
dan
mata-mata kuyu
kota
mematut luka dan sepi
jari-jari
beton mencelup
ke
dalam rahimmu
sebenih
letih
di
ponjok kanvas
sang
perupa menjelma pengembara
duduk
menunggumu
menjilat
cinta yang tersisa
sungai
menganak
di
antara selangkang dan bantal
“aku
yang tertidur
di
tepi sungai itu
di
antara semak dan kesemrawutan
juga
penat
dan
sulur rambut yang menaut”
“tapi
itu bukan silsilah”
lalu
perupa bangkit
melepas
kelir tahun berhantu
moyang
menangguk
luka
tanpa lukisan
lekuk
hidung
dan
mata pembaptisan
“eh,
aku yang tertidur di tepi kota”
bukan
di tepi sungai
dalam
sekian detik
segurat
ricik memuai
Tidak ada komentar:
Posting Komentar