Buruh Rubuh - santriwarrior

Breaking

Header Ads

SANTRIWARRIOR 728X90

Sabtu, 23 Februari 2013

Buruh Rubuh


Ini kisah seorang buruh1
Menuntut upah tambah seribu
Di penghujung bulan tujuh
Setelah seratus hari memendam keluh

Ini kisah yang diangkat dari lubang nasib
Setelah sekian waktu, orang-orang membiarkannya kasip
Sebab lintah dan setan bersekutu dalam aib


***

Ia lelaki bermulut tebal
Kata-katanya menghambur bak ombak banal
Orang-orang kantor menjulukinya si duri gatal
Suka mengungkit uang kesehatan, jaminan si mati dan ongkos sosial

Dengan mulutnya ia suka membongkar
Arsip-arsip dan silsilah hitam kantor mengakar
Menguliti ketakutan menjadi belukar
Di jalan-jalan, hingga menjelma badai besar

Ia tinggal di Desa Karang-Angar
Dengan dua anak dan satu istri menghitung kabar
825.00 sebulan secara pasar2
Pertiga puluh hari 27. 500 seharusnya dibayar3

Bulan Mei ia mulai bekerja
Di lahan garam menjemur tubuh dan jiwa
Saban hari 26.150 mendapat upah
Terasa kurang dalam desah

Ini upah kurang seribu
Harga tak pantas untuk seteru
Apalagi diperdebatkan dengan kata-kata haru-biru
Tapi untuk nasib buruh cukuplah berlaku

Pagi-pagi kepalanya tumbuh kalimat
Bukankah upah itu tidak sesuai dengan maklumat
Bukankah itu mengebiri hak-hak buruh yang penat
Bukankah ini bentuk penghisapan keringat

Untuk itu, ia mengetuk pintu4
Saban rumah buruh satu-satu
Berkabar tentang pentingnya untuk mengadu
Hal-ihwal upah buruh kurang seribu

“Saudara-saudara, kita telah setia dan pasrah
Untuk mengurus nasib dengan mata merah
Di atas meja-kolam garam gerah
Dalam hentakan terik matahari marah”

“Tapi kesetiaan bukan berarti maya
Kepasrahan bukan berarti lupa
Pada tetes keringat membanjir serupa Gangga
Pada belikat mengeras penuh bara”

Minggu pagi dia mendapat mandat
Mengobar kata-katanya dalam doa dan siasat
Di akhir bulan, mereka bersepakat
Mendatangi kantor perusahaan yang pekat

Lima hari purnama Juli tergelincir,
Saat ia mengirim surat ke polisi tanpa kurir
“Tanggal 30 tercetus dalam pikir
Kami akan mengurus tetes keringat yang dikena sihir”

Lima hari berikutnya, ia menyambung rasa
Sesama wajah dengan dada menyala
Ada pemuda dengan lengan pembela
Ada mahasiswa dengan mulut sok lihai kata

Tapi sayang, tuan-tuan kantor punya tulah
Di malam hari mereka menggedor rumah-rumah dengan memo merah
Menebar tanda silang merah
:Yang tak kerja tanggal 30 akan dikenai istirah

Mereka juga membuat plakat ingatan
Ia hanya buruh blingsatan
Ke sana-sini menebar cerita picisan
Tentunya ia juga provokator yang mencari bayaran

Pagi mengambang dengan warna kusam
Para buruh bergegas dengan pikiran buram
Di dada mereka lahan-lahan garam meranggas tajam
Dan langit menitikkan panas legam

Pemuda-mahasiswa pun moksa dalam hening
Lengkung-langit-kaca kantor bening
Memancarkan cahaya emas beling
Di jantung malam dengan suara sekutu melengking

Ia bersikukuh dengan janji dan mandat
Tanpa kawan kakinya menginjak halaman kantor mampat
Oleh mulut-mulut penghisap keringat
Seperti menyesap candu-madat.

Hari masih pukul delapan pagi
Satpam-satpam membentuk barisan serupa gigi
Berjejer, menghalau langkahnya mengayun sepi
Hendak memperjuangkan tambahan sesuap nasi

“Saudara mau apa?” tanya petugas dengan pongah
“Saya ingin bertemu dengan kepala kantor” jawabnya gagah
“Beliau tidak di kantor. Tidak di rumah”
“Saya hanya ingin bertegur sapa dengan ramah”

Melihat rautnya kukuh, mata petugas memancar gusar
“Apa saudara mengajak kami bertengkar?”
Sebaris satpam mendekat dengan pentungan menebar
Gidik dan mengincar bagian tubuhnya yang pendar.

Dia tersenyum dengan bibir tebal dan mata sayu
“Ini hanya soal upah seribu”
Kata-katanya bertahan dalam deraun angin dan debu
Seperti garis nasib sembilu

Tapi barisan satpam kian kukuh
Ruang-kantor-ruang-kantor sengaja dibuat tidak gaduh
Agar dia segera menjauh
Menggugurkan niatnya semisal daun luruh

Setelah hampir lima jam tak menemu jalan
Setelah siang tergelincir dengan suara tertelan
Dia bergegas dengan dada berbongkahan
Melepas bayang-bayang dan kerlip hari penuh kepasrahan

Esoknya, senja tiba berwarna durja
Mengirim petugas dengan raut murka
Dalam senyum dan tegur sapa penuh wibawa
:Besok kau istirah, tak usah kerja

Mendengar kabar ‘istirah-kerja’ matanya kelam
Kelebat anak-anaknya menapak tangga suram
Masa bergemerincing dengan suara logam
Di tanah-tanah tergerus dari dongeng silam

Istrinya pun menahan airmata dan sesak
Besok pagi tagihan listrik-air terpacak
Bersama uang saku sekolah dan SPP yang menunggak
Dan daftar menu dapur yang tiba-tiba terasa pekak.

Tak hanya ‘istirah kerja’ menggurat garis tangannya
Kabar runyam meluberi tubuhnya
“upah tak naik selama ini karenanya
Buruh tak sejahtera karenanya”

***

Dua hari ia bertahan dengan mata penuh darah
Melepas pagi dan sore tanpa desah
Di ujung waktu pun, hanya doa membubung basah
Mengirim riwayat keluarga dalam dongengan resah

Dua hari berikutnya ia menulis surat
Selembar kertas untuk mengadukan nasib laknat
Pada meja Disnaker; konon ditugaskan untuk mengurus korporat
Agar tak sewenang-sewenang pada buruh dan khianat

“Kepala Dinas yang terhormat
Maaf kiranya jika kabar ini mengganggu jadwal Bapak yang padat
Saya kiranya mendapati perlakuan tak tepat
Di’istirah-kerja’ gara-gara menuntut upah sesuai yang disepakat”

“Kepala Dinas yang terhormat
Maaf kiranya jika keluh kesah ini membuat kepala Bapak penat
Istri-anak saya kini seperti lalat
Terbang dan berkerumun tanpa gairah dan nikmat

“Bapak Kepala Dinas yang terhormat
Maaf kiranya jika untuk kesekian saya mengirim maklumat
Tentang nasib buruh yang di’istirah-kerja’ dengan tak hormat
Seperti tahun-tahun sebelumnya yang penuh ratapan dan jerit menyayat”

Dua hari berikutnya ia mengetuk-ngetuk meja
Nasib dan waktu dalam doa bersekutu-ria
Membaca suratnya tak berjeda
Membaca kalimatnya penuh rasa dan iba

Dua hari berikutnya, sampai menjelma dua purnama
Ia hanya mengetuk-ngetuk meja
Hari-hari penantiannya lengang dan hampa
Penuh nista dan kutuk durja

***

Sore itu hampir melenggang
Empat pemuda bertandang
Muhni, Arif, Riyadi dan Wahedi berwajah terang
Menapaki rumahnya setengah kerontang

“Apa yang kalian inginkan
Saya hanya buruh yang telah diistirah-kerjakan
Saya tak sanggup untuk berdiri di pengadilan
Saya tak punya ladang atau kerbau untuk pembiayaan”

Dhe5, kami melihat kata-kata Sampeyan berbinar
Menebar ancam dan gusar
Pada mereka yang menakik punggung buruh dengan nanar
Seumpama pagi becek di pasar”

“Dhe, konon, di zaman penjajahan6
Para pekerja dibayar mingguan
Para buruh dibayar harian
Tapi bukankah hari ini sudah zaman kemerdekaan?”

“Dhe, dulu monopoli kolonial begitu besi
Orang-orang dilarang berbicara yang sejati
Teror dan ancaman mengintai di setiap mimpi
Tapi bukankah sekarang negeri ini sudah mandiri?”

“Dhe, dulu Lulofs menulis “Kuli” yang terhisap7
Di tanah pembuangan yang senyap
Di bawah laras senapan siap menyergap
Tapi bukankah sekarang kita berdaulat di bawah langit gemeriap?

***

Wajah kota menampak terang
Empat pemuda mengapitnya dengan mata tenang
Di atas meja di gedung wakil rakyat menjulang
Menuturkan silsilah nasib di musim kerontang

“Saya hanya buruh harian, Tuan
Setiap hari menjemur tubuh dan kepanasan
Mencari sesuap nasi dan sumber penghidupan
Agar merasakan anugerah dan nikmat Tuhan”

“Saya diberhentikan gara-gara menuntut upah seribu
Sejak Bulai Mei kami bekerja dengan duapuluh enam ribu
Padahal Pak Gubernur memutuskan 825 ribu
Pertiga puluh hari seharusnya 27 ribu”

Bagi Tuan, uang seribu mungkin tak berdarah
Apalagi untuk diperdebatkan di panggung sejarah
Tapi bagi buruh seperti saya sungguh bak runtuhan buah
Di musim kemarau bergelimang susah

***

Diantar mobil plat merah anggota dewan
Pagi menyeruak dengan matahari harapan
Menapak-ketuk kantor dinas ketenagakerjaan
Untuk mengorek surat yang hampir terpeti-kemaskan

“Kami sudah menerima surat pengaduan Saudara
Sebulan lalu telah kami serahkan ke bagian yang berhak mendata
Kami bekerja sesuai aturan dan biaya
Kami harap Saudara dapat memaklumi kerja abdi negara”

“Tapi saya buruh, bukan pejabat atau pegawai negeri
Dapur dan isi kantong anak saya mesti terpenuhi
Dari cucuran keringat saban hari
Di ladang garam bertarung dengan terik matahari”

“Kami sudah memanggil semua pihak
Kami tidak ingin bekerja, kemudian terjebak
Apalagi ini menyangkut perusahaan anak-pinak
Badan Usaha Milik Negara yang tak merangkak”

“Tapi surat saya sudah satu bulan
Mungkin huruf-hurufnya sudah karatan
Seperti mata yang jelalatan dan perut keroncongan
Anak-istri saya menunda kebahagiaan”

“Kami paham keluh-kesah Saudara
Menapaki hari-hari dengan doa dan asa
Tapi kami tak bisa bekerja di luar petunjuk penguasa
Bisa-bisa kami juga diistirah-kerja”

“Tapi bukankah negara dibentuk untuk menghitung sejahtera dan bahagia
Sekalian rakyat, tua-muda, elite-jelata
Bukankah Tuan dibayar untuk menghamba
Melayani kami yang menyandarkan nasib penuh percaya”

“Sekali lagi kami paham maksud dan tujuan Saudara
Apalagi di sini ada Bapak Dewan pemilik suara ksatria
Kami akan mengurus kenestapaan ini segera
Mungkin minggu depan Saudara bisa banyak bicara”

***

Senin berkelebat bayangan sepi
Empat pemuda kembali pada barak-barak mengasah diri
Tuan dewan lagi sibuk mengurus rapat suci
Seorang diri ia menghadapi guratan kepala seksi

“Saya sudah membaca surat Saudara panjang lebar
Saya sudah memanggil semua pihak tanpa kelakar
Saya juga menggelar dengar-pendapat dengan para pakar
Saya pun memutuskan bahwa Saudara ternyata sedikit makar”

“Saudara boleh kembali mengadu nasib di kolam-meja8
Mengais suratan keringat tanpa jeda
Tapi dengan syarat saudara kumpulkan tanda tangan dan bahwa
Saudara memang sebaris dengan mereka”

***

Malam datang dengan kabar berbuncah
Di jalan-jalan ibukota yang berderap meriah
Segerombolan buruh memekikkan upah
Dan sistem kerja yang dipenuhi catatan gelisah

Tangan-tangan buruh sigap mengepal
Meninju langit hingga awan menebal
Memenuhi gerbang perusahaan dengan poster binal
Dan dada penguasa-pengusaha deg-degan oleh celoteh nakal.

Tapi desanya bukan Jakarta atau kota dengan mata-pena penyaksi
Desanya hanya kuali dengan kabar dan insiden sepi
Menjelang tidur atau di kala pagi
Saat rumah-rumah menggeliat dengan mimpi yang terbeli9

Desanya bukan Jakarta dengan gedung-gedung dan corong kesaksian
Desanya hanya ladang-ladang garam gemerlapan
Dihuni para penguasa dan kaum bersorban
Menjelma setan di altar kedudukan

Lalu dengan mulut gagap ditulisnya pesan singkat
Buat Bapak Menteri yang terhomat
Saya hanya seorang buruh yang selalu mengeluh dengan hikmat
Tentang nasib yang terlalu laknat10

Catatan kaki:
  1. Persoalan buruh yang diberhentikan sepihak P.T. Garam,  ini terkuak setelah ada advokasi dari Keluarga Mahasiswa Pinggirpapas untuk mengadukannya ke DPRD Sumenep. Hal ini dapat dilihat pada berita “DPC Sumenep Kawal Buruh Garam” dimua di web PDIP Jawa Timur: http://www.pdiperjuangan-jatim.org/v03/index.php?mod=berita&id=6021 . Pada Jum'at, 31 Agustus 2012 diposting pada kategori BERITA CABANG (terlampir).
  2. Berdasarkan keputusan Gubernur Jawa Timur, UMR Kabupaten Sumenep 2012 sebesar 825.000. Keputusan ini berlaku sejak 1 Januari 2012
  3. Sebagai buruh harian yang dibayar setiap minggu, upah buruh seharusnya 27.500. Besaran ini dapat dengan perhitungan 825.000 dibagi 30 hari. Ini dapat dilihat pada surat pengaduan “Suat Buat Menakertrans” yang dikirimkan ke detik.com dan koran kompas. (terlampir)
  4.  Berdasarkan hasil wawancara Keluarga Mahasiswa Pinggir Papas dengan Zainal, buruh yang diberhentikan sepihak oleh P.T. Garam pada Senin, 27 Agustus 2012. 
  5. Dhe: Odhe (Madura: pinggir papas): panggilan buat orang lebih tua.
  6. Huub de Honge (2011) dalam esai “Monopolisasi dan Perlawanan Negara dan Petani Garam di Madura” secara gamblang memaparkan bahwa persoalan buruh garam di Madura memang menjadi persoalan yang cukup krusial dan tak pernah terselesaikan. “… Pada masa kolonial, tambak garam digarap oleh pekerja tetap yang dibayar mingguan serta buruh musiman yang dibayar harian….” (hlm. 39). Sistem buruh garam warisan kolonial, ini masih dipertahankan hingga kini. Lihat Huub De Jonge, 2011. Garam, Kekerasan, dan Aduan Sapi. Jogjakarta: LkiS.
  7. M.H. Szekely-Lulofs (1899-1985), novelis berkebangsaan Belanda kelahiran Surabaya, dalam karyanya “Kuli”, cukup berhasil memotret praktik kolonial di Indonesia. Lewat tokoh utamanya, Ruki, novel ini menghadirkan potret pribumi terperdaya dan tak berdaya di bawah kekuasaan kolonial sebagai kuli budak atau buruh yang dibayar tidak sebagaimana mestinya. Madelon Hermine Szekely-Lulofs, 1985. Kuli. Penerjemah Dr. A. Ikram. Jakarta: PT Grafitipers
  8. lahan garam. Lihat Huub de Honge, (2011:39) . Garam, Kekerasan, dan Aduan Sapi. Jogjakarta: LkiS
  9. Judul lagu Iwan Fals. Lagu ini bercerita tentang harga-harga tinggi yang tak terjangkau oleh penduduk. Lagu ini menginpirasi penulis untuk menekankan tentang kehidupan buruh garam (:terutama mengenai upah mereka) yang tak sesuai dengan keadaan.
  10. Selengkapnya tentang keluh kesah ini dapat dilihat pada “Suat Buat Menakertrans” yang dikirimkan ke detik.com dan koran kompas. Dimuat di detik.com dengan judul “Mantan Buruh PT Garam Mencari Keadilan”     (http://suarapembaca.detik.com/ read /2012/ 10/12/ 111433/ 2061006/ 283/ mantan-buruh-pt-garam-mencari-keadilan).





Tidak ada komentar:

Posting Komentar