Orang-orang Miskin: Kekalahan yang Terus Menggema - santriwarrior

Breaking

Header Ads

SANTRIWARRIOR 728X90

Sabtu, 23 Februari 2013

Orang-orang Miskin: Kekalahan yang Terus Menggema


Rendra, salah satu penyair besar di zamannya. Hingga kini, sajak-sajaknya masih memiliki ‘harga-tawar’ kemanusiaan dibicarakan. Dengan gaya balada, sajak-sajak Rendra hadir dengan suasana kritik yang terang-benderang. Persoalan-persoalan yang disuguhkan menyiratkan rasa sakit yang termaktub dalam ingatan bersama.

Kenyataan lain yang menarik dalam sajak-sajak Rendra, kesederhaan daya ungkapnya. Sehingga  sajak-sajaknya tampil sebagai hiburan sekaligus ‘wakil’ bagi masyarakatnya. Dengan demikian, tak heranlah kalau sajak-sajak Rendra memiliki ruang deklamasi dan penikmat yang luas.

Sajak-sajak Rendra bukan sekadar menyuguhkan jalin-kelindan permainan bahasa. Ruang dialog yang ditawarkan, menyebabkan sajaknya menjelma ruang kontemplasi yang menggairahkan. Berbagai realitas yang ditangkap dan diolahnya, mengajak pembacanya bergumul dan bersikap secara tegas pada hiruk-pikuk kondisi sosial.

Sajak “Orang-orang Miskin” yang ditulis tahun 1970-an dan dimuat dalam “Potret Pembangunan dalam Puisi”, mengetengahkan narasi bernas tentang nasib orang-orang terabaikan. Dalam sajak ini, dengan suara jernihnya, Rendra memotret, memberi empati dan membicarakannya dengan tutur yang lembut, enak dan menohok ke dasar jantung.

Pada tahun 1970-an, seperti kita tahu, gairah pembangunan Orde Baru berkibar-kibar keras dan terdengar nyaring. Topik pembangunan dan pemerataan hasilnya didengungkan seperti mantra-ajimat penyembuh. Dengan jargon ini pemerintah terus mempropagandakan mimpi-mimpi kemajuan. Pemerintah seolah-olah hendak berkabar bahwa pembangunan yang dicanangkannya benar-benar akan menghasilkan masyarakat yang adil, sejahtera dan bahagia.

Tapi pada kenyataannya, jargon pembangunan dan birahi kekuasaan yang meluap-luap (:diktator) lebih banyak melahirkan pihak yang kalah. Orang-orang miskin dan orang terbelakang lainnya, seolah bukan bagian dari isu pembangunan. Sehingga tak ayal, pemerintah abai dengan nasib mereka. Di tengah kondisi seperti inilah, sajak-sajak Rendra hadir membawa suara pencerahan. Maka sastra bukan hanya mengayak, memoles kata hingga mengilat. Sastra bertugas untuk menyuarakan nasib kemanusiaan. Dengan dalih inilah, sajak Rendra terasa bising dengan teriakan orang-orang miskin. Sajak-sajak Rendra terlalu sibuk mengurusi rintih terabaikan orang-orang yang dikalahkan. Dan tentunya sajak-sajak Rendra begitu lantang mengutuk kesewenang-wenangan Orde Baru.

Suara tentang nasib yang kalah dan itikad sebuah sajak membicarakannya dapat kita temukan dalam baris-baris berikut ini, //Orang-orang miskin di jalan, //yang tinggal di dalam selokan,// yang kalah di dalam pergulatan, // yang diledek oleh impian, // janganlah mereka ditinggalkan. //Angin membawa bau baju mereka. //Rambut mereka melekat di bulan purnama. //Wanita-wanita bunting berbaris di cakrawala, //mengandung buah jalan raya. Tak dapat dipungkiri berbagai potret paradoksal orang-orang miskin terasa sengal dan menyengat. Mereka tak hanya kalah secara ekonomi dan politik. Impian, yang seyogyanya bebas, ternyata juga melancarkan ledekan. Bau baju mereka yang apak memenuhi udara. Gerai rambut mereka begitu menarik sekemilau bulan puranama. Sialnya lagi, yang menyebabkan wanita-wanita bunting berbaris di cakrawala adalah deru pembangunan yang berwujud jalan raya. Pergulatan politik dan ekonomi tak hanya membuat mereka kalah. Lebih dari itu, orang-orang miskin dipaksa untuk pasrah dan menyerah.

Dunia kekalahan orang-orang miskin terasa semakin kuat asosiasinya dengan ungkapan-ungkapan yang kontras: angin yang membawa bau baju, rambut melekat di bulan purnama, dan wanita bunting berbaris di cakrawala. Ungkapan-ungkapan ini menegaskan satu kenyataan orang-orang miskin yang kumuh, kucil, udik, jorok, terbelakang dan terabaikan. Meski begitu, pemerintah tetap tidak boleh alpa, bahwa pembangunan yang mereka dengungkan mencatut nama mereka. Orang-orang miskin (:rakyat) instrumen utama pembangunan ini dijalankan. Sehingga sudah seyogyanya, mereka harus mendapatkan porsi yang utama dalam pembangunan. Kalau tidak?

Orang-orang miskin. Orang-orang berdosa. // Bayi gelap dalam batin. Rumput dan lumut jalan raya. //Tak bisa kamu abaikan.//Bila kamu remehkan mereka,
di jalan  kamu akan diburu bayangan.// Tidurmu akan penuh igauan, dan bahasa anak-anakmu sukar kamu terka
.//. Dengan kata lain mengabaikan orang-orang miskin akan membuat hidup berbangsa dan bernegara akan semakin krusial dan runyam. Mereka telah memenuhi setiap sudut jalan, ruang mimpi dan kamus bahasa generasi di masa depan. Ini peringatan yang harus sungguh-sungguh diindahkan. Hal itu mengingat kemiskinan tidak hanya sekadar penghambat laju pembangunan dan kemajuan. Tapi kemiskinan merupakan tolok-ukur seberapa jauh pembangunan dan kemajuan itu dicapai.

Kalau sampai kemiskinan tidak tertanggulangi, pembangunan yang dibayangkan meriah, melimpah, menyuburkan kesejahteraan akan dipenuhi oleh ketimpangan sosial, chaos, dan kegagapan generasi masa depan berbicara dirinya dan masyarakatnya. Dengan krusialnya kemiskinan dan orang-orang miskin yang memenuhi seantero hidup, maka //Jangan kamu bilang negara ini kaya//  karena orang-orang berkembang di kota dan di desa. //Jangan kamu bilang dirimu kaya //bila tetanggamu memakan bangkai kucingnya. Bahkan untuk memberi perhatian dan fokus yang lebih dalam mengentaskan kemiskinan, perlu kiranya //Lambang negara ini mestinya trompah dan blacu.//Dan perlu diusulkan
agar ketemu presiden tak perlu berdasi seperti Belanda. //Dan tentara di jalan jangan bebas memukul mahasiswa.//
Kalau Redra pernah mendengungkan bahasa urakan, baris-baris ini menunjukkan bagaimana urakan itu semestinya disuarakan: dia mendekonstruksi, memberontak, mengkritik, dan menolak segala kejumudan sosial.

Lebih jauh, Rendra menggambarkan kemiskinan begitu konkret. Kemiskinan bukanlah persoalan yang hanya tinggal di selokan. Bukan nasib yang dikalahkan. Bukan keinginan yang diledek oleh impian. Kemiskinan ternyata ‘orang-orang’ yang leluasa keluar masuk dalam tubuh-ruang-waktu kita.  //Orang-orang miskin di jalan// masuk ke dalam tidur malammu.// Perempuan-perempuan bunga raya // (yang) menyuapi putra-putramu. // orang-orang miskin benar-benar memegang peranan sentral dalam membangun kondisi sosial yang beradab dan berkelanjutan. Sebab //Tangan-tangan kotor dari jalanan // meraba-raba kaca jendelamu.//Mereka tak bisa kamu biarkan. Yang lebih mengerikan, kemiskinan tidak hanya menyangkut tata sosial semata. Tetapi //Jumlah mereka tak bisa kamu mistik menjadi nol.// Mereka akan menjadi pertanyaan //yang mencegat ideologimu.//Gigi mereka yang kuning// akan meringis di muka agamamu. //Kuman-kuman sipilis dan tbc dari gang-gang gelap// akan hinggap di gorden presidenan //dan buku programma gedung kesenian.

Ungkapan-ungkapan di atas bukan lagi sekadar peringatan bagi tatanan kondisi sosial. Kemiskinan ternyata dapat membuat seseorang melacurkan dirinya, membuang jauh tentang ideologi yang diangankannya. Bahkan kemiskinan juga menyebabkan agama tampak jorok. Hawa surga dan panas api neraka tak akan berarti apa-apa bagi mereka yang kelaparan, hidup dalam kolong jembatan. Sehingga pembicaraan dan penghayatan Tuhan di tengah kemiskinan memang seperti gigi kuning, gigi yang tak pernah digosok. Artinya, kemiskinan akan menyebabkan agama menjadi candu dan dongengan yang tak menjajikan apa-apa, selain ketakberdayaan.

Gambaran tentang orang-orang miskin yang komplek dipertegas kembali oleh Rendra, bahwa mereka adalah barisan yang membentang sepanjang sejarah. Orang-orang miskin dan kemiskinannya merupakan persoalan kini dan hari esok. //Orang-orang miskin berbaris sepanjang sejarah, // bagai udara panas yang selalu ada, // bagai gerimis yang selalu membayang. //, dan kalau persoalan ini dibiarkan, maka // Orang-orang miskin mengangkat pisau-pisau// tertuju ke dada kita,// atau ke dada mereka sendiri. Sebelum itu terjadi hendaknya kita menyadari bahwa orang-orang miskin bagian dari diri kita.// O,kenangkanlah: // orang-orang miskin// juga berasal dari kemah Ibrahim. (SW)


ORANG-ORANG MISKIN
Oleh :
W.S. Rendra
 
Orang-orang miskin di jalan,
yang tinggal di dalam selokan,
yang kalah di dalam pergulatan,
yang diledek oleh impian,
janganlah mereka ditinggalkan.
Angin membawa bau baju mereka.
Rambut mereka melekat di bulan purnama.
Wanita-wanita bunting berbaris di cakrawala,
mengandung buah jalan raya.
Orang-orang miskin. Orang-orang berdosa.
Bayi gelap dalam batin. Rumput dan lumut jalan raya.
Tak bisa kamu abaikan.
Bila kamu remehkan mereka,
di jalan  kamu akan diburu bayangan.
Tidurmu akan penuh igauan,
dan bahasa anak-anakmu sukar kamu terka.
Jangan kamu bilang negara ini kaya
karena orang-orang berkembang di kota dan di desa.
Jangan kamu bilang dirimu kaya
bila tetanggamu memakan bangkai kucingnya.
Lambang negara ini mestinya trompah dan blacu.
Dan perlu diusulkan
agar ketemu presiden tak perlu berdasi seperti Belanda.
Dan tentara di jalan jangan bebas memukul mahasiswa.
Orang-orang miskin di jalan
masuk ke dalam tidur malammu.
Perempuan-perempuan bunga raya
menyuapi putra-putramu.
Tangan-tangan kotor dari jalanan
meraba-raba kaca jendelamu.
Mereka tak bisa kamu biarkan.
Jumlah mereka tak bisa kamu mistik menjadi nol.
Mereka akan menjadi pertanyaan
yang mencegat ideologimu.
Gigi mereka yang kuning
akan meringis di muka agamamu.
Kuman-kuman sipilis dan tbc dari gang-gang gelap
akan hinggap di gorden presidenan
dan buku programma gedung kesenian.
Orang-orang miskin berbaris sepanjang sejarah,
bagai udara panas yang selalu ada,
bagai gerimis yang selalu membayang.
Orang-orang miskin mengangkat pisau-pisau
tertuju ke dada kita,
atau ke dada mereka sendiri.
O, kenangkanlah :
orang-orang miskin
juga berasal dari kemah Ibrahim

 
Yogya, 4 Pebruari 1978
Potret Pembangunan dalam Puisi 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar