Akhir-akhir ini, pemberitaan kasak-kusuk dunia anak menghiasi beberapa headline
atau topik khusus media massa, baik elektronik maupun cetak. Kekerasan pada
anak, perebutan hak asuh anak, hingga pada eksploitasi anak. Semua itu, tanpa
kita sadari telah membunuh karakter anak, membunuh benih awal manusia menjalani
dan memandang kehidupan.
Kasus perceraian orang tua (:Broken home) merupakan wacana awal psikologi
kegamangan anak dalam berkembang. Hidup dengan orang tua tunggal, tidak dapat
dipugkiri menjadi pemicu awal seorang anak mengalami shock ataupun
kemunduran perkembangan secara mental. Maka bukanlah suatu yang mengherankan
ketika kita mendapati generasi muda ini cepat frustasi. Maka, membludaknya
kasus kawula muda, krisis multidimensi di kalangan remaja, tidak dapat
dielakkan lagi merupakan ‘buah kutukan’ terabainya dunia anak.
Dunia anak yang sejatinya adalah dunia bermain, telah terampas oleh beban
kehidupan yang terlalu rumit. Sehingga, anak tidak lagi menemukan gerak
perkembangan yang normal. Anak telah dipaksa untuk berada di luar garis
kemampuannya. Maka, dapat dibayangkan, kemampuan anak yang masih belia mesti
menanggung derita dan beban hidup yang di luar kadarnya.
Selain berbagai kasus yang menimpa dan menyeret anak dalam pertarungan
kelas tinggi, terputusnya transformasi nilai-nilai sosial budaya kita juga
sangat berperan dalam membentuk dunia anak yang gamang dan gelisah. Budaya
dongeng sebelum tidur yang digerus parade sinetron, permainan anak yang
digantikan oleh menu game, secara tidak langsung pula menggiring anak
pada kegagapan untuk memahami dan mengenali dirinya sendiri dan lingkungannya.
Lebih jauh, di kalangan masyarakat kita, masih belum begitu peka terhadap
kondisi dunia anak. Dunia pendidikan yang diharapkan menjadi wahana
penetralisir bagi kesuntukan anak, tidak jarang hadir menjelma penjara. Bahkan
tidak jarang pula, anak menjadi modal dunia pendidikan kita untuk mengeruk
keuntungan.
Maka memberikan dan menghadirkan referensi tentang dunia anak merupakan
sesuatu yang sangat urgen. Hal ini tentunya sejalan dengan kemajuan teknolagi,
yang tidak hanya memproduksi barang-barang kebutuhan secara instant. Tapi di
luar itu, telah memungkinkan kita untuk memahami diri kita secara komprehensif.
Secara teoritis.
Satu dari sekian referensi yang patut kita sambut adalah buku “Struktur
Narasi Novel Karya Anak”. Buku yang ditulis oleh Dr. Suyatno, M.Pd., dosen
sekaligus Kajur Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, FBS, Universitas Negeri
Surabaya ini, sekilas telah memberikan gambaran apresiasi terhadap karya anak.
Kalau selama ini kita memandang sebelah mata pada karya-karya anak, maka
seiring kemajuan elektronik yang memungkinkan kita menghasilkan berbagai produk,
sudah seyogyanya kita untuk lebih proaktif melakukan apresiasi terhadap karya
yang dihasilkan anak. Seperti yang diamati Dr. Suyatno, M.Pd. ini, hadirnya
karya-karya anak yang ditulis oleh anak pada tahun 2000-an, merupakan indikasi
dan sinyal bahwa dunia anak, di tengah globalisasi ini telah menemukan dunianya
sendiri. Dunia fantasi, dunia bermain, juga dunia bercerita untuk bisa memahami
realitas di sekitarya. Yang pada akhirnya berimplikasi pada menguatnya
pertumbuhan karya anak dan memberikan peluang bagi kreatvitas anak (hal. 2)
Sehingga, apresiasi terhadap karya anak, di samping diharapkan bisa
mengembalikan dunia anak, juga bisa memicu perkembangan anak ke arah yang
produktif. Kalau selama ini, sastra dan anak tak ubahnya penjajah dan
taklukannya, meminjam istilah esai Riris K. Toha-Sarumpaet, maka kehadiran
sastra anak yang ditulis oleh anak-anak tentunya akan menghadirkan perspektif
berbeda. Perspektif yang akan menempatkan anak sebagai subjek atau pelaku pada
dunianya sendiri. Sehingga, orang-orang di luar dunia anak tidak lagi menjelma
bapak yang otoriter, atau ibu yang judes. Tapi orang-orang di luar anak sudah
semestinya menjadi fasilitator, menjadi patner, dan menjadi pendamping. Meski
peran dan fungsi orang tua, tidak seratus persen bisa diabaikan dalam
pembentukan dan pengarahan langkah anak ke depan. Peran dan fungsi orang tua
sudah saatnya diterjemahkan dari realitas dunia anak itu sendiri. Dunia
bermain-main.
Yang dalam kata pengantarnya untuk buku ini, Prof. Budi Darma menegaskan
harapannya membangun masa depan anak melalui karya sastra. Hal ini berangkat
dari kenyataan bahwa anak akan terus berkembang dan juga berubah. Namun hakikat
anak sebagai homo fabulans, makhluk suka bercerita, yang erat kaitannya
dengan hakikat anak sebagai homo ludens, makhluk yang suka bermain,
apabila dikembangkan sejak kecil, akan membentuk masa depan anak menjadi lebih
baik (hal. ix).
***
Buku yang diterbitkan Jaring Pena ini secara garis besar membicarakan
sembilan potensi pokok karya anak. Pertama, potensi dalam memproduksi novel.
Kedua, sastra anak, karya anak di sebuah perjalanan. Ketiga, faktor pendorong
anak menulis novel. Keempat, kajian dan konsep sastra anak. Kelima, struktur
narasi novel karya anak. Keenam, alur novel karya anak. Ketujuh, penokohan
novel karya anak. Kedelapan latar novel karya anak. Kesembilan perbandingan
struktur narasi novel karya anak.
Lebih jauh, buku ini juga mengajak kita untuk menengok dunia anak lebih
jauh. Dunia yang ternyata tidak hanya bermain-main belaka. Tetapi, dunia di
mana tersimpan potensi manusia memahami dirinya sendiri. Potensi yang dapat
diterjemahkan di sini adalah adanya kemampuan berbahasa sejak dini, kepekaan
sosial anak serta ungkapan lugas nan tulus anak menstrukturkan pengalamannya.
Kalau secara psikologi, perkembangan karakter anak ditentukan oleh tingkat
atau masa pertumbuhan yang wajar dan memadai, maka memahami dunia anak sangat
berperan membantu mereka melewati setiap fase pertumbuhan itu. Memahami dunia
anak akan memberikan arahan dan acuan bagaimana kita mesti menggali potensi
yang dimiliki anak, terutama potensi dan kemampuan berbahasa anak.
Dengan gaya bahasa yang enak dicerna dan mudah dipahami, buku ini juga
memaparkan berbagai faktor yang memengaruhi dan mendorong anak berkarya,
menulis novel. Seperti kebiasaan membaca, mendengarkan cerita, menulis buku
harian, menggunakan komputer dan lainnya, motivasi orang tua dan pengalaman
sendiri dan pengamatan lingkungan sekitar. Pemahaman akan berbagai kondisi yang
bisa mendorong anak ini, tentunya dapat dijadikan acuan dalam mengembangkan
potensi dan kemampuan anak.
***
Selain memaparkan berbagai faktor pendukung dan pola pengembangan bakat dan
potensi anak, apresiasi terhadap karya-karya anak yang disajikan buku ini,
cukup menjadi bukti konkret potensi dan kemampuan anak. Terutama dalam hal
berbahasa.
Pemaparan struktur karya anak juga memberikan ilustrasi bagi kita,
bagaimana anak seusia 7-12 tahun sudah memiliki kepekaan sosial maupun
pembacaan yang cermat akan pola hubungan hidup yang membutuhkan keterbukaan,
kegigihan, kemandirian, kerjasama, persahabatan, toleransi, hemat dan saling
memberi. Lebih jauh, pemahaman dan penghayatan hidup oleh anak pun cukup
beragam.
Semisal pada Novel ‘Kado Untuk Umi’ karya Izzati (8 tahun), kita
dapati sebuah usaha seorang anak untuk membahagiakan ibunya, di Hari Ibu,
dengan memberinya kado. Dalam novel ini diceritakan tentang usaha seorang tokoh
Aisyah dan teman-temannya untuk memberikan kado kepada ibu mereka
masing-masing.
Uniknya, penyajian berbagai tema yang ingin disampaikan Izzati, semisal
kemandirian, kebersamaan, disajikan lewat narasi cerita yang utuh. Narasi
cerita yang tidak terjebak dalam ranah menggurui (hal. 106).
Tema persahabatan dapat ditemukan dalam pembahasan novel ‘Beatiful Days’
karya Bella (8 tahun), novel ‘Let’s Bake Cookies’ karya Izzati (9
tahun), dan novel ‘The NoEru Group’ karya Dena (12 tahun). Dalam
novel-novel ini, tema persahabatan coba dieksplorasi dari berbagai dinamika dan
setting kehidupan anak itu sendiri. Namun yang perlu dicermati,
penyajian tema persahabatan dengan lika-likunya: pertengkaran, persaingan,
kemarahan, kerjasama, kekompakan, ketegaran, kegigihan dan kebenaran,
menandaskan bahwa dalam diri manusia, sejak mulai masa kanak-kanak telah ‘tercantum’
impian akan kebersamaan, akan hidup yang harmoni.
Sedang novel ‘Juara Sejati’ karya Silmi (9 tahun) dan novel ‘Little
Cuties’ karya Alline (11 tahun) mengusung tema spirit dan kegigihan
mencapai prestasi. Dalam novel ‘Juara Sejati’, lewat tokoh protagonis
Silvie dan teman-temannya, kita diajak pada satu simpulan akan hakikat menjadi
juara sejati, yakni jagoan memang tak selalu menang duluan. Pada kekalahan
pertama, jagoan bisa mengambil pelajaran, bahwasanya, kita harus berlatih lebih
giat dan lebih percaya diri (hal. 113).
Berbeda dengan novel ‘Juara Sejati’, novel ‘Little Cuties’
dengan tokoh utamanya ‘aku’ yang bernama Fira dan teman-temannya, Zira, Devita,
Rival, Via, Dewo, dan Reza, menyajikan sebuah diorama kebersamaan, kesetiakawanan,
persaingan positif, keinginan dengan usaha, dan percaya diri dalam meraih
sukses (114).
Selain mengusung sebagian besar tema-tema yang berkutat dengan pegalamannya
sendiri, karya anak dalam pembahasan buku ini, juga menggambarkan dan kepekaan
anak pada lingkungan sekitarnya, misalnya perhatian pada dunia binatang (novel
‘Si Kupu-Kupu’ karya Dena {12 tahun}), atau tentang cita-cita
terciptanya kedamaian (novel ‘Kisah Tiga Pengembara’ karya Ali Riza {12
tahun}), atau pun cerita kepahlawanan memerangi kejahatan (novel ‘Misteri
Pedang Skinheald’ karya Ataka {12 tahun}).
***
Secara keseluruhan, kehadiran buku
‘Struktur Narasi Novel Karya Anak’ dewasa ini memiliki dua arti penting.
Pertama, buku ini merupakan sebuah terobosan yang perlu mendapat perhatian dari
setiap pecinta sastra. Terutama sastra anak. Kedua, buku ini tidak hanya
mengungkap sisi lain dunia anak. Tetapi juga memberikan gambaran dan acuan yang
jelas dalam mengembangkan potensi dan bakat anak. Yang bakat dan potensi
tersebut berkutat dalam ranah bermain dan suka bercerita.
Maka tidak salah lagi, buku ini merupakan salah satu koleksi yang mesti
dibaca dan dimiliki oleh setiap pemerhati buku dan sastra. Terutama sastra dan
buku yang berhubungan dengan dunia anak. {}

Tidak ada komentar:
Posting Komentar