Konon, begitulah kakekku bercerita, kedatangan tentara
Jepang ditandai bunyi pistol meletus. Tor, tor-tor. Orang-orang lari tunggang
langgang bersembunyi. Suara pistol itu tidak hanya mendesing tajam. Akan tetapi
juga mengancam degup nafas. Karena itu, saban kali tentara Jepang datang,
orang-orang mengambil langkah seribu untuk menyelamatkan diri.
Kalau “orang besar” (:dewasa) pada lari, lain halnya dengan
anak-anak kecil. Kata Kakek, tatkala bapak-ibunya –buyutku- lari bersembungi ke
balik pintu, Kakek –waktu itu masih kecil- justru mencari celah intipan. Dari
celah itu, kakek mengenali bentuk pistol yang mengeluarkan bunyi tor, tor-tor.
Sebuah moncong kecil. Dari moncong itulah, desingan itu menghentak disertai
muntahan peluru.
Mulanya kakek dan teman-teman masa kecilnya sedikit
ketar-ketir mendengar bunyi tor, tor-tor itu. Tapi setelah empat sampai lima
kali mendengarnya, kakek dan teman-temannya mulai terbiasa. Bunyi itu tak lagi
mengehentak dan mengirim ketakutan. Kakek mulai menikmati desingan itu sebagai
hentak nada di antara nada datar alam. Kelak, ketika tentara Jepang berlalu,
bunyi tor, tor-tor itu menyisakan kesan yang mendalam. Kakek dan teman-temannya
pun ‘mengimpi’ untuk mendengarkan bunyi-bunyian itu lagi. Mereka pun berkhayal untuk
memeragakan lagak tentara Jepang ketika mengacungkan pistol.
Kesan yang medalam itu ternyata mendorong kakek dan
teman-temannya untuk membuat pistol itu. Mereka pun mencari benda berlubang
yang mirip laras pistol. Ranting bambu, nah, ranting bambu yang nyaris sempurna
kemiripannya dengan laras pistol Jepang. Kakek dan teman-temannya pun membuat
pistol dari ranting bambu. Mulanya, kakek dan teman-temannya membuat pistol
Jepang dari sembang jenis bambu. Tapi pada perkembangannya, kakek dan teman-temannya
mengidentifikasi jenis bambu yang kuat dan enak untuk dijadikan pistol Jepang.
Perreng keles, begitu kakek
menyebut bahan yang pas untuk pistol andalannya. Ranting perreng keles yang
berdiameter 1-1,5 cm dipotong dengan ukuran panjang 30-40 cm sebanyak dua
potong. Sepotong untuk untuk penyodok dan sepotong lainnya untuk laras (lubang
tembak atau lubang penyodok). Bahan penyodok diraut hingga sesuai dengan lubang
laras, dengan pangkal 10 cm untuk pegangan. Bagian depan penyodok itu dibuat
membesar agar dapat menekan atau menghentak peluru (pelor) dengan sempurna. Untuk
menambah daya-gema suara desingan, kakek menambahkan daun pandan atau daun
kelapa yang dililit berbentuk kerucut di ujung pistol Jepangnya. Sedangkan
untuk pelornya, kakek membuatnya dari dhalubang (kertas) yang dibasahi atau
biji kembang lempennah (...).
Semasa kecilnya, kakek dan teman-temannya sering
memainkannya ketika sore atau malam hari. Dengan permainan ini, mereka ingin
mengenangkan kembali masa ketika tentara Jepang datang; ketika pistol-pistol
tentara bermata sipit memaksa orang besar lari tunggang langgang; ketika
desingan tor, tor-tor mencekam langit kampungnya.
Saya pernah memainkan permainan tor-cettoran itu sewaktu
kelas empat sekolah dasar (SD). Kalau kakek dan teman-temannya hendak mengimpi
menjadi tentara Jepang, saya dan teman-teman memainkannya untuk meniru gaya
para pahlawa perang di film-film. Meski peluru terlontar + 5 meter, kami
tetap membayangkan peluru itu melesat hingga ratusan meter. Saban kali peluru
kami muntah, kami pun pura-pura menghindar, atau saat hendak menyodok pun kami
seolah-olah mengincar titik lemah musuh.
Tor. Tor-tor. Kami memainkan permainan ini dengan praktis.
Kali pertama kami menyiapkan pistol, kemudian kami memasukkan peluru ke lubang
laras dan menyodoknya hingga ke ujung lubang laras. Peluru kedua kami susulkan
untuk melapisi peluru pertama. Peluru kedua ini berfungsi untuk dua hal.
Pertama berfungsi sebagai klep pompa untuk menekan peluru pertama yang akan
ditembakkan. Kedua, berfungsi sebagai peluru berikutnya yang siap ditembakkan.
Saat ditembakkan inilah, bunyi cettoran menggema.
Memainkan tor-cettor, kami tidak hanya menikmati desingan bunyi
cettoran atau membayangkan diri kami sebagai pahlawan perang semata dalam film.
Permainan tor-cettor ini juga melatih kami untuk bersikap tangkas. Dalam
menghindari serangan musuh dan mengisi peluru pistol, kami dituntut cekatan.
Kalau tidak, kami akan menjadi santapan keganasan cettoran pistol musuh.
Kecuali itu, kami harus mampu menjaga daya konsentrasi sepanjang permainan,
agar kami berhasil melumpuhkan musuh.
Saya seringkan memainkan tor-cettor tatkala di sekolah
dasar, sekitar sepuluh tahun lalu. Saya biasa memainkannya di halaman sekolah
atau di tanah lapang desa. sesekali saya juga memainkannya di teras rumah. Tor.
Tor-tor. Sehabis pulang sekolah atau seusai ngaji di mushalla saya dan
teman-teman sering memainkannya.
Catatan: cerita
ini diolah dari hasil wawancara Nurul Eliyanti Putri dan Elma Rini Ekawati pada
narasumber Maryatul Kiptiyah (41) dan Sumiati (43) magarsari Desa Kesek
Sepuran, Kecamatan Labang dan Abdur Rahman (50) dan Sumiati (46) magarsari
Kelurahan Bancaran, Kecamatan Bangkalan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar