Jumat
siang. Udara Kopma sedikit gerah. Dua orang teman, Hendriyanti dan Rhima
memilih air mineral botol dan sepiring gorengan untuk menandai pertemuan siang
itu. Percakapan kami berlalu lalang antara tugas wawancara, bencana asap dan
tandatangan ujian. Kami bercakap-cakap begitu larut. Kalimat-kalimat tak
mengindahkan matahari yang hampir melintasi titik 13.00. Di tengah silang
sengkarut kalimat-kalimat kami yang mulai loyo, Rhima mengiris alismu yang
menyala. Alismu, kata Rhima, tampak lebih runcing dari biasanya. Bahkan, ketika
kau mengucapkan kalimatmu, alis itu seperti ingin menusuk mata seseorang.
Mulanya Rhima tertarik pada lintang alismu yang runcing, kemudian beralih pada
kalimatmu yang kau ucapkan dengan nada terbata-bata.
“Kalau
kami belum paham dengan cara belajar
dan menjelaskan Saudara Set.” Kalimat itu, kata Rhima, kau serakkan di meja
pertemuan antara Pak Dekan dan para pengurus Himpunan Mahasiswa Prodi dengan
getar suara berat. Pada pertemuan itu, kau pun menekankan tentang kata kami, Saudara Set, dan materi belajar yang sukar dipahami.
Siang
itu, saya hanya mengangguk gagu menyantap irisan cerita Rhima. Ketika Rhima
bertanya tentang lintang alismu yang runcing, dan kalimat-kalimat yang berserak
dengan nada serak, saya hanya bisa berseloroh, “Rindu berat kadang bisa membuat
seseorang menemukan alasan yang tepat untuk benci.” Kami pun tertawa. Saya
kira, saya tidak perlu menanggapi cerita Rhima melebihi cerita yang kita habiskan
hampir enam bulan. Saya pun mengira, persoalan keberatanmu terhadap proses dan
metode belajar bersama kita, itu hal biasa. Sebagai teman baru, saya kira kita
butuh penyesuaian. Apalagi dalam berlajar bersama, penyesuaian antara satu
teman dan teman yang lain memegang kata kunci yang vital. Dengan upaya untuk
saling menyesuaikan, kita akan belajar memasuki satu pintu bersama untuk saling
respek, membantu dan memahami. Karena itu, dalam pertemanan dan pertemuan yang
baru, seorang teman harus menyesuiakan dirinya dengan temannya dalam hal
kebiasaan (:budaya), komunikasi, santapan (buku) dan tata aturan, baik yang
tertulis maupun yang kita terima sebagai norma.
Kalau
sampai hari ini kau masih berlum terima dengan polaku menyampaikan materi
belajar “Bahasa dan Sastra Madura”, saya akan menerimanya dengan lapang dada
dan perasaan gembira. Saya mesti memanjatkan rasa syukur atas karunia Tuhan
dipertemukan dengan seorang teman yang begitu perhatian dengan diri saya.
Sampai-sampai setelah berpisah pun, kau belum bisa menerima atas kedunguanku belajar
bersamamu.
Tapi
setelah berpisah –dan kemungkinan kita tidak akan berada dalam satu kelas lagi-
saya hanya ingin menceritakan berbagai upaya saya dalam melakukan penyesuaian
diri dengan teman-teman baru saya. Setelah delapan tahun tidak di Madura, saya
merasa perlu untuk melakukan kiat atau trik dalam mengembalikan “ruh” Madura
dalam tubuh saya, sehingga saya bisa menyampaikan materi “Bahasa dan Sastra
Madura” yang dapat dipahami oleh teman belajar saya dengan mudah dan praktis.
Saat
teman saya tidak bisa memahami penjelasan saya, kecurigaan saya kali pertama
tertuju pada kemampuan baca dan pemahaman saya. Saya curiga, kalau selama ini,
saya masih mengalami gagal-fokus atau gagal-paham dalam mengunyah
kalimat-kalimat dalam buku-buku yang saya baca. Saya masih ragu tentang
kemampuan saya dalam memahami buku “Manusia Madura” (Mien A. Rifa’i, 2007) “Garam,
Kekerasan, dan Aduan Sapi” (Huub de Jonge, 2012), “Agama, Kebudayaan, dan
Ekonomi” (Huub de Jonge (ed.), 1989), “ Madura dalam Empat Zaman: Pedagang,
Perkembangan Ekonomi, dan Islam” (Huub de Jonge,1989), “Sedjarah Madura,
Selajang Pandang” (Abdurrachman, 1971), “Kepercayaan, Magi dan Tradisi dalam
Masyarakat Madura” (Soegianto (penyunting), 2003), “Perlawanan Penguasa Madura
atas Hegemoni Jawa, Relasi Pusat-Daerah pada Periode Akhir Mataram (1726-1745)”
(Aminuddin Kasdi, 2003), “Lebur! Seni Musik dan Pertunjukan dalam Masyarakat
Madura” (Helene Bouvier, 2002), “Perubahan Sosial dalam Masyarakat Agraris
Madura 1850-1940” (Kuntowijoyo, 2002), “Menabur Kharisma Menuai Kuasa, Kiprah
Kiai dan Blater sebagai Rezim Kembar di Madura (Abdur Rozaki, 2004) dan
“Kelakar Madura buat Gus Dur” (Sujiwo Tejo, 2001). Karena itu, jika kau sudah
membaca buku-buku yang pernah saya baca itu, sudilah kiranya dirimu untuk berbagi
waktu dan kesempatan berdiskusi. Dengan berdiskusi, saya yakin kita akan dapat
mengurangi ruang-ruang kesalah-pahaman di antara kita.
Selain
curiga pada kegagal-fokusan dan kegagal-pahaman saya terhadap buku-buku rujukan
itu, saya kadang mencurigai kesalah-pahaman kita untuk memahami materi belajar
besama itu, disebabkan buku-buku yang kita konsumsi berbeda. Dalam hal ini,
pertama saya mohon maaf. Saya mohon maaf, karena keterbatasan kemampuan saya
dalam mendapatkan buku-buku yang representatif tentang Madura. Karena itu, saya
cenderung sederhana dan apa adanya dalam menjelaskan, sehingga
penjelasan-penjelasan saya cenderung tidak “menggigit”, padahal kita bukan anak
SMA lagi, bukan? Saya memang jarang menggunakan kata-kata yang “wah”. Saya juga
jarang menggunakan metode belajar yang sedikit “keras” dalam teori. Bagi saya,
belajar bersama itu tidak bisa dilepaskan dari kultur, perilaku dan falsafah
budaya kita. Karena kita sama-sama orang Madura, saya kira kita bisa saling
menghormati, menghargai dan memahami. Dengan kalimat yang sedikit berbelit,
karena kita dilahirkan dalam ‘dunia’ yang sama, kita akan lebih mudah untuk
berkomunikasi, berinteraksi dan segala persoalan bisa kita selesaikan secara
adat.
Kedua,
saya ingin menggodamu, Cantik. Ya, andai buku-buku yang kita baca berbeda,
maukah kau meminjamkan bukumu padaku? Dengan membaca koleksi buku di kepalamu,
saya berharap proses belajar kita bisa lancar. Dengan demikian, kau pun tak
perlu lagi plonga-plongo saban kali saya menjelaskan materi kita. Begitu pun
saya, tak perlu dengan menarik urat leher untuk membuatmu memahami uraian isi
kepala saya. Kita bukan anak SMA lagi kan,
Cantik? Itu dengan catatan, kau masih bersedia belajar denganku lagi, meski di
ruang-ruang non-formal, semisal kantin, warkop atau di mana pun kita bisa
bertemu dan belajar.
ilustrasi diambil dari: sylviamolsen.blogspot.com
ilustrasi diambil dari: sylviamolsen.blogspot.com

Catatan yang sungguh lantas, Kak :D
BalasHapus