Entah untuk kali
ke berapa saya menginjakkan kaki di tanah Tuban? Saban menginjak tanah Tuban
saya teringat Ronggolawe. Ronggolawe adalah tokoh favorit sandiwara radio
"Tutur Tinular". Saya menyukai Ronggolawe karena karakter suaranya
yang tegas, lugas dan keteguhannya memegang prinsip. Meski hanya lewat suara,
saya membayangkan diri Ronggolawe yang tinggi kekar, langkahnya
tegap, sorot mata tajam, dan ketika melontarkan kata-kata rahangnya berkatupan
dengan irama lambat.
Pada satu
kesempatan, entah kapan, kebanggaan saya pada Rongolawe kian bertambah. Pada
satu percakapan, konon, Ronggolawe adalah anak Arya
Wiraraja, adipati Sumenep. Sumenep kota kelahiran saya. Sontak, pada percakapan itu, saya
mengimpikan diri sebagai Ronggolawe. Saya menemukan sosok ideal pada diri
Ronggolawe. Saya mengimajinasikan diri
untuk menjadi Ronggolawe yang lain. Sayangnya, kenyataan memberi gambaran lain,
Ronggolawe hanya di masa lalu. Ronggolawe orang lain. Kalau saya memaksa diri menjadi Ronggolawe, saya akan terjebak pada diri
yang kehilangan diri. Diri yang tak memahami. Diri yang selalu memandang diri
yang tak terpahami. Diri yang lain dan jauh.
Karena itu,
berkunjung ke Tuban kadang menjadi ritual
tersendiri bagi diri saya untuk menyatakan dan meyakinkan pada diri, Ronggolawe
adalah orang lain. ‘Bertemu’ Ronggolawe seolah
menyatakan kami memang berbeda. Imajinasi saya boleh membayangkan diri ingin
menjadi Ronggolawe, tapi diri yang berziarah pada makam Ronggolawe tetap
berucap, Ronggolawe tetap
berada di luar diri saya. Dia tak bisa dan tak akan bisa saya hidupkan dalam
diri saya.
Saya akan berziarah ke makam Ronggolawe. Diantar Luni, mahasiswa
Universitas Ronggolawe, saya menelusur jalan-jalan kota Tuban. Makam Ronggolawe
berada di Jalan Ronggolawe. Saya sampai di makam Ronggolawe saat senja mengambang.
Suasana lengang mensejajari nisan-nisan di area pemakaman Ronggolawe.
Bangunan pendopo dari masa lalu memberi kesan anggun. Seorang
penjual bakso tampak lesu menunggui sepi. Sebuah mobil terparkir tepat di depan gerbang seberang jalan. Dan kami
memarkir motor kami dengan perasaan was-was. Seperti halnya area pemakaman,
daya magis menyergapku. Kematian tidak hanya menakutkan. Kematian menggetarkan
hasrat pasrah akan keagungan pemilik kematian.
Area pemakaman
Ronggolawe menampakkan aura kerajaan. Pagar, patung dan gerbang mengingatkan
saya pada latar kerajaan di film-film. Di depan gerbang makam Ronggolawe, kami sedikit
kikuk. Kami melepas sandal. "Dibawa masuk saja," dengan sapu di
tangan, seorang ibu
tua meminta kami untuk tidak melepas sandal.
Pohon besar
menjulang di depan 'rumah peristirahatan' Ronggolawe. Selain Ibu yang
mempersilakan kami untuk tidak melepas
sandal, kami juga disambut ibu tua lainnya.
"Jika ingin tahu silsilah Ronggolawe, hubungi nomor anak saya saja,"
dengan bahasa Jawa alus perempuan tua itu meminta maklum. "Anak saya lebih
paham." Saya benar-benar kikuk. Saya menyerahkan segala
persoalan di makam Ronggolawe itu pada Luni.
Kami memohon
diri untuk ke dalam. Ibu tua itu menghidupkan lampu, lalu membuka pintu. Rumah
peristirahatan Ronggolawe dihuni dua belas orang: Raden
Hariyo Ronggolawe, Raden Hariyo Siro Lawe, Raden Hariyo Siro Wenang, Raden
Hariyo Leno, Raden Hariyo Dikoro, Raden Hariyo Tejo, Raden Hariyo Balabar, Kyai
Ageng Batu Lare, Nyai Ageng Manila, nyai Roro Kuto, nyai Ageng Gunsiah dan R.
Ajeng Hariyo Tejo. Kami duduk bersisian: kirim al-fatihah dan mengaji surat
Yaa-sin. Sejenak kami merenung dalam peristirahatan Ronggolawe: skenario
politik seperti apakah yang memaksa Ronggolawe memberontak?
Saat kami asyik
berbincang jejak Ronggolawe, Luni mengingatkan
waktu: kalian jadi yang mau ke klenteng Kwan Sing Bio Saya
ceritakan pada Luni, tahun 2008 atau 2009, saya pernah berkunjung ke klenteng
besar di Tuban itu. Pada waktu itu, saya mendapatkan salah satu kitab suci Kong Hu Chu. Kali ini, saya
ingin berkunjung dengan alasan yang sedikit fantastis: ingin melihat patung
besar yang sempat geger dan viral di media massa. Ah, kadang saya kampungan dan
sentimental. Berita yang viral seolah punya nilai lebih untuk diketahui.
Padahal geger patung itu dapat dikatakan rasa tersinggung dari sebagian kecil masyarakat Tuban yang dibesar-besarkan. Tidakkah kita
bisa menyelesaikan masalah dengan kepala dingin dan dalam suasana kekeluargaan?
Yang lebih memuakkan, saya kadang sering tertipu dengan
media. Berulang saya menasihati diri sendiri, yang berasal dari media tidak
sepenuhnya dilandasi niat tulus mengabarkan atau mendialogkan. Kalau bahasa
filosofisnya, yang nampak di permukaan, belum tentu hakikat tentang “apa itu”?
Patung Dewa Kwan Sing Tee Koen dengan setinggi
30 meter benar-benar besar dan gagah. Dia memang tidak ingin mencakar langit. Tapi
sorot matanya yang memandang lepas ke laut luas, pedang besar di tangan
kanannya, janggutnya yang berjuntai, dan ular naga yang memenuhi motif bajunya
dan tempatnya berpijak, seolah ingin mengabarkan kegagahannya menguasai sejarah
pada zamannya.
Di klenteng, kami tidak banyak bermanuver. Seingatku, hanya empat kali kami
mengambil gambar. Selebihnya, kami menyusur jalan-jalan klenteng dan melihat
bangunan lima lantai yang tidak boleh "dijamah". Saya sempat
melemparkan pertanyaan pada teman-teman, "Kenapa warna merah dan kuning
menyala begitu dominan di gedung itu?" Sore itu, kami mungkin mulai diserang
lelah. Teman-temanku pada tak merespon. Dan kami pun bergegas balik ke kampus
Unirow.

Prediksi Togel Sgp Mbah Bonar 6 Februari 2020 <a href="https://indextogel.org/prediksi-togel/prediksi-togel-sgp-mbah-bonar-6-februari-2020/ > Ayo Pasang Angka Keberuntunganmu hari ini </a> Gabung sekarang dan Dapatkan Potongan Setiap Hari !!!
BalasHapus