Catatan Lamongan-Tuban II: Selamat Siang Bumi Ronggolawe - santriwarrior

Breaking

Header Ads

SANTRIWARRIOR 728X90

Sabtu, 20 Januari 2018

Catatan Lamongan-Tuban II: Selamat Siang Bumi Ronggolawe

Oleh Set Wahedi

Entah untuk kali ke berapa saya menginjakkan kaki di tanah Tuban? Saban menginjak tanah Tuban saya teringat Ronggolawe. Ronggolawe adalah tokoh favorit sandiwara radio "Tutur Tinular". Saya menyukai Ronggolawe karena karakter suaranya yang tegas, lugas dan keteguhannya memegang prinsip. Meski hanya lewat suara, saya membayangkan diri Ronggolawe yang tinggi kekar, langkahnya tegap, sorot mata tajam, dan ketika melontarkan kata-kata rahangnya berkatupan dengan irama lambat.

Pada satu kesempatan, entah kapan, kebanggaan saya pada Rongolawe kian bertambah. Pada satu percakapan, konon, Ronggolawe adalah anak Arya Wiraraja, adipati Sumenep. Sumenep kota kelahiran saya. Sontak, pada percakapan itu, saya mengimpikan diri sebagai Ronggolawe. Saya menemukan sosok ideal pada diri Ronggolawe. Saya mengimajinasikan diri untuk menjadi Ronggolawe yang lain. Sayangnya, kenyataan memberi gambaran lain, Ronggolawe hanya di masa lalu. Ronggolawe orang lain. Kalau saya memaksa diri menjadi Ronggolawe, saya akan terjebak pada diri yang kehilangan diri. Diri yang tak memahami. Diri yang selalu memandang diri yang tak terpahami. Diri yang lain dan jauh.

Karena itu, berkunjung ke Tuban kadang menjadi ritual tersendiri bagi diri saya untuk menyatakan dan meyakinkan pada diri, Ronggolawe adalah orang lain. ‘Bertemu’ Ronggolawe seolah menyatakan kami memang berbeda. Imajinasi saya boleh membayangkan diri ingin menjadi Ronggolawe, tapi diri yang berziarah pada makam Ronggolawe tetap berucap, Ronggolawe tetap berada di luar diri saya. Dia tak bisa dan tak akan bisa saya hidupkan dalam diri saya.

Saya akan berziarah ke makam Ronggolawe. Diantar Luni, mahasiswa Universitas Ronggolawe, saya menelusur jalan-jalan kota Tuban. Makam Ronggolawe berada di Jalan Ronggolawe. Saya sampai di makam Ronggolawe saat senja mengambang. Suasana lengang mensejajari nisan-nisan di area pemakaman Ronggolawe. Bangunan pendopo dari masa lalu memberi kesan anggun. Seorang penjual bakso tampak lesu menunggui sepi. Sebuah mobil terparkir tepat di depan gerbang seberang jalan. Dan kami memarkir motor kami dengan perasaan was-was. Seperti halnya area pemakaman, daya magis menyergapku. Kematian tidak hanya menakutkan. Kematian menggetarkan hasrat pasrah akan keagungan pemilik kematian.

Area pemakaman Ronggolawe menampakkan aura kerajaan. Pagar, patung dan gerbang mengingatkan saya pada latar kerajaan di film-film. Di depan gerbang makam Ronggolawe, kami sedikit kikuk. Kami melepas sandal. "Dibawa masuk saja," dengan sapu di tangan, seorang ibu tua meminta kami untuk tidak melepas sandal.

Pohon besar menjulang di depan 'rumah peristirahatan' Ronggolawe. Selain Ibu yang mempersilakan kami untuk tidak melepas sandal, kami juga disambut ibu tua lainnya. "Jika ingin tahu silsilah Ronggolawe, hubungi nomor anak saya saja," dengan bahasa Jawa alus perempuan tua itu meminta maklum. "Anak saya lebih paham." Saya benar-benar kikuk. Saya menyerahkan segala persoalan di makam Ronggolawe itu pada Luni.

Kami memohon diri untuk ke dalam. Ibu tua itu menghidupkan lampu, lalu membuka pintu. Rumah peristirahatan Ronggolawe dihuni dua belas orang: Raden Hariyo Ronggolawe, Raden Hariyo Siro Lawe, Raden Hariyo Siro Wenang, Raden Hariyo Leno, Raden Hariyo Dikoro, Raden Hariyo Tejo, Raden Hariyo Balabar, Kyai Ageng Batu Lare, Nyai Ageng Manila, nyai Roro Kuto, nyai Ageng Gunsiah dan R. Ajeng Hariyo Tejo. Kami duduk bersisian: kirim al-fatihah dan mengaji surat Yaa-sin. Sejenak kami merenung dalam peristirahatan Ronggolawe: skenario politik seperti apakah yang memaksa Ronggolawe memberontak?

Saat kami asyik berbincang jejak Ronggolawe, Luni mengingatkan waktu: kalian jadi yang mau ke klenteng Kwan Sing Bio Saya ceritakan pada Luni, tahun 2008 atau 2009, saya pernah berkunjung ke klenteng besar di Tuban itu. Pada waktu itu, saya mendapatkan salah satu kitab suci Kong Hu Chu. Kali ini, saya ingin berkunjung dengan alasan yang sedikit fantastis: ingin melihat patung besar yang sempat geger dan viral di media massa. Ah, kadang saya kampungan dan sentimental. Berita yang viral seolah punya nilai lebih untuk diketahui. Padahal geger patung itu dapat dikatakan rasa tersinggung dari sebagian kecil masyarakat Tuban yang dibesar-besarkan. Tidakkah kita bisa menyelesaikan masalah dengan kepala dingin dan dalam suasana kekeluargaan? Yang lebih memuakkan, saya kadang sering tertipu dengan media. Berulang saya menasihati diri sendiri, yang berasal dari media tidak sepenuhnya dilandasi niat tulus mengabarkan atau mendialogkan. Kalau bahasa filosofisnya, yang nampak di permukaan, belum tentu hakikat tentang “apa itu?

Patung Dewa Kwan Sing Tee Koen dengan setinggi 30 meter benar-benar besar dan gagah. Dia memang tidak ingin mencakar langit. Tapi sorot matanya yang memandang lepas ke laut luas, pedang besar di tangan kanannya, janggutnya yang berjuntai, dan ular naga yang memenuhi motif bajunya dan tempatnya berpijak, seolah ingin mengabarkan kegagahannya menguasai sejarah pada zamannya. Di klenteng, kami tidak banyak bermanuver. Seingatku, hanya empat kali kami mengambil gambar. Selebihnya, kami menyusur jalan-jalan klenteng dan melihat bangunan lima lantai yang tidak boleh "dijamah". Saya sempat melemparkan pertanyaan pada teman-teman, "Kenapa warna merah dan kuning menyala begitu dominan di gedung itu?" Sore itu, kami mungkin mulai diserang lelah. Teman-temanku pada tak merespon. Dan kami pun bergegas balik ke kampus Unirow.

1 komentar:

  1. Prediksi Togel Sgp Mbah Bonar 6 Februari 2020 <a href="https://indextogel.org/prediksi-togel/prediksi-togel-sgp-mbah-bonar-6-februari-2020/ > Ayo Pasang Angka Keberuntunganmu hari ini </a> Gabung sekarang dan Dapatkan Potongan Setiap Hari !!!

    BalasHapus